Categories Warta

Menyelisik Transformasi Kesehatan di Kota Payakumbuh, Dari Era Siklus Hidup Hingga Pemanfaatan Digitalisasi

Kamis siang, 27 Oktober 2023, pukul 14.25 WIB ruangan kerja lantai II Kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Payakumbuh tampak sepi. Di meja tunggu yang sudah disediakan, hanya tersedia tiga album berwarna hitam yang sengaja diletakkan untuk dibaca oleh tamu yang datang.

Sekitar sepuluh menit sudah terlewati, akhirnya Kepala Dinas Kesehatan Kota Payakumbuh, Wawan Sofianto datang ke kantor, dengan memakai baju batik kombinasi warna hitam dan abu-abu dengan motif kupu-kupu berwarna maroon, ia masuk ke ruang kerjanya.

Ketika selesai membereskan beberapa hal Wawan duduk di kursi tamu, saat itulah kepada sudutpayakumbuh.com Wawan menceritakan bagaimana bentuk transformasi kesehatan yang ada di Kota Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat.

Dalam rangka peningkatan sistem layanan kesehatan Transformasi Kesehatan Untuk Indonesia Maju ini digagas oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, melalui Kemenkes RI menetapkan enam transformasi pelayanan kesehatan dalam masyarakat. diantaranya Transformasi Layanan Primer, Layanan Rujukan, Sistem Ketahanan Kesehatan, Sistem Pembiayaan Kesehatan, SDM Kesehatan, dan Teknologi Kesehatan.

Kadinkes Kota Payakumbuh, Wawan Sofianto menyebutkan untuk pelaksanaan transformasi kesehatan ini di Dinkes Payakumbuh telah melaksanakannya, dimana untuk transformasi layananan primer yang ditekankan oleh Kemenkes RI adalah pendekatan siklus hidup. Jika dilihat ke tahun sebelumnya memakai pendekatan program, dan pada tahun ini menggunakan siklus hidup yang artinya bahwa di setiap tahapan umur kehidupan masyarakat tersebut harus dilayani.

“Misalnya, ibu hamil, dia harus mendapatkan pemeriksaan kehamilan selama kehamilan itu minimal 6 kali sekarang, dulu cuma 4 kali. K1, K2, K3, K4 ditambah dengan 2 kali pemeriksaan USG. Jadi sekarang di layanan primer tersebut, kita sudah ada USG di Puskesmas, kalau dulu kan USG itu adanya di rumah sakit, sekarang sudah ada di layanan dasar atau primer,” ujarnya

 

Ia juga mengungkapkan bahwa di seluruh Puskesmas yang berada di Kota Payakumbuh sudah memiliki alat USG dan dokter umum pun meskibukan spesialis obgyn itu sudah dilatih untuk memakai USG. Menurutnya mulai dari belum lahir menjadi manusia, remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, ibu melahirkan sampai nanti bayi, balita, usia sekolah, usia produktif lansia sampai meninggal itu semua urusan kesehatan. Inilah yang dikatakan siklus hidup.

“Karena konsep kesehatan itu diarahkan bukan hanya bagaimana orang sakit menjadi sehat tapi bagaimana menjaga orang sehat supaya jangan sakit. Paradigmanya seperti itu, transformasi layanan primer betul-betul menjadi penekanan oleh Kemenkes, insyaAllah itu kita laksanakan karena bagaimana pun ini juga menjadi standar pelayanan minimal yang harus ada di Dinkes,” jelasnya.

Tak hanya itu, Wawan juga menjelaskan lebih dalam mengenai layanan rujukan yang menjadi layanan setelah fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas dan jaringanya, Pustu, Puskel, menurutnya layanan rujukan adalah tingkatan di atas dengan penekannnya adalah ke layanan rujukan yang dimiliki.

“Kalau pemerintah kita ada RSUD Adnan WD dengan standarnya tipe-C itu secara SDM dan saranan prasarana sudah memenuhi, kalau bisa disebut kita udah tipe-C+, kita udah punya 34 spesialis. Jadi standar layanan dari tipe-C itu udah lebih, cuma ya itu tadi karena kita keterbatasan juga dalam lahan untuk pengembangan,” ucapnya.

Hal itu dikarenakan RSUD Adnan WD tidak hanya menerima pelayanan masyarakat kota Payakumbuh saja, jika pernah dihitung jumlah kunjungan yang berobat ke RSUD Adnan WD itu mungkin 50 persen bukan orang Kota Payakumbuh.

*

Lima belas menit mengaduk obrolan, tiba-tiba Wawan mendapati gawainya berdering dan ia langsung mengangkatnya. Tidak sampai lima menit, ia meneruskan pembahasan yang terpotong.

Untuk transformasi kesehatan ketiga yakni sistem ketahanan kesehatan, ia menyebutkan hal yang ditekankan oleh Kemenkes berpedoman kepada kasus COVID-19. ketika ada kasus COVID-19, KLB, Endemi, dan Pandemi, tidak semua daerah siap.

“Kita banyak yang kelabakan, ketika ada KLB ternyata kita belum punya ketahanan kesehatan. Yang diharapkan di daerah ini siap, minimal KLB lah, kalau pandemi itu kan sifatnya sudah nasional, sudah besar,” tuturnya.

Dalam sistem ketahanan kesehatan ada berupa alat, obat dan pembekalan kesehatan, sehingga hal tersebut harus benar-benar sudah dipersiapkan ditambah dengan adanya labor dan semacamnya.

Menurut Wawan untuk di Payakumbuh, terkait obat dan pembekalan kesehatan sudah siap, obat selalu disiapkan stok yang lebih. Namun yang belum dimiliki itu adalah labor kesehatan. Diperkirakan labor ini targetnya pemerintah pusat paling lambat 2027 semua daerah harus memiliki Labor Kesehatan Daerah (Lakesda).

“Sebenarnya kita sudah mempersiapkan ini juga, beberapa peralatan malah sudah kita ansur beli, cuma itu tadi kesiapan daerah lagi dalam pembentukan labornya. Labor kesehatan ini sifatnya makro, contohnya berkaca kepada COVID-19, kalau bisa kan pemeriksaan seperti itu di daerah selesai, kalau dulu kan pas masa itu untuk cek PCR harus ke Semen Padang, harus ke Baso dulu, itu yang dimaksud ketahanan kesehatan, alat dan pembengkalan kesehatan itu tersedia di daerah, jadi daerah itu siap ketika terjadi ada permasalahan kesehatan,”ungkapnya.

*

Sementara itu, terkait dengan sistem pembiayaan kesehatan, jika dulu memakai istilah mandatoring spending yang artinya 10 persen dari APBD itu harus dianggarkan untuk kesehatan, karena fungsi kesehatan adalah fungsi pelayanan dasar yang harus dipenuhi oleh daerah.

“Alhamdulillah kalau kita di Payakumbuh itu sudah terpenuhi, bukti nyata lainnya kita sampai sekarang untuk kepesertaan JKN atau BPJS sudah 98 persen, sudah melebihi UHC. Malah 2 persen lagi kita bisa total, maksudnya dilindungi oleh pemerintah. Satu tahun itu kita menghabiskan sekitar 18 M untuk pembiayaan kesehatan, untuk bayar premi, itu bukti seriusnya pemerintah kita menjaga penjaminan kesehatan,” ungkapnya.

Menurutnya ada tiga sumber pendanaan di Payakumbuh, pertama adalah TBI yang didanai oleh pusat, datanya di Kemensos, kedua ada jaminan kesehatan Sumbar Sakato yang 80 persen itu dibayar premi daerah dan 20 persennya lagi dibayar provinsi, ketiga total APBD murni bayar.

“Salah satu kelebihan kita sudah mendapatkan UHC adalah ketika ada masyarakat kita yang butuh jaminan kesehatan seperti kartu BPJS itu bisa langsung aktif, itu bedanya ada penghargaan dari BPJS dengan program jaminannya bagi daerah yang sudah UHC. Daftar hari ini dengan klasifikasi tertentu itu bisa aktif hari itu langsung. Alhamdulillah kota Payakumbuh udah dapat itu,” ungkapnya.

Meski terkait SDM kesehatan secara jumlah atau klasifikasi Kota Payakumbuh sudah memenuhi, baik itu di Dinas, RS, Puskesmas, maupun di IFK. Namun yang sekarang yang menjadi tanggung jawab semuanya adalah bagaimana peningkatan kapasitas.

“Ini kan juga butuh biaya nih, berupa kegiatan pelatihan. Karena ilmu medis kesehatan itu terus berkembang tidak bisa hanya tok yang kita dapatkan di perguruan tinggi saja yang dipakai. Ini yang membuat kita beda dari disiplin ilmu yang lainnya. Ini juga yang menjadi perhatian kita di Dinkes. Bagaimana SDM kita terkait pelayanan langsung ke masyarakat ilmunya dapat di-upgrade,” ujarnya.

Transformasi kesehatan yang terakhir adalah Teknologi kesehatan, menurutnya kenapa teknologi itu penting dikarenakan di era sekarang tidak bisa menghindari proses digitalisasi. Tidak mungkin pola pengobatan yang lama masih diterapkan sampai sekarang. Teknologi ini salah satunya yang sudah diterapkan yaitu pemanfaatan aplikasi.

“Kalau di rumah sakit itu kita punya Sistem Informasi Manajeman Rumah Sakit (SIMRS) itu yang langsung dari Kementerian Kesehatan. Nanti akan kita connect-kan dengan sistem antrian yang dibuat oleh Kominfo yang namanya Silakeh. Nanti kita breeding lagi dengan sistem yang ada di BPJS, jadi aplikasi ini sudah terintegrasi semuanya,” jelasnya.

Tak hanya itu, Di Puskesmas yang ada di Payakumbuh juga memiliki yang namanya aplikasi Sipaduko yang bekerjasama dengan kominfo Pemko Payakumbuh. Hal ini dikarenakan memang secara pelaporan baik itu kasus kematian ibu, kematian melahirkan, kasus kejadian penyakit, kasus pecatatan yang ada di Posyandu, vaksin, dan lainya. Semuanya sekarang sudah menggunakan aplikasi.

Setelah menjelaskan point yang terakhir, sambil bercengkrama mengenai persoalan lainnya, Wawan menutup obrolan yang terekam hampir 33 menit 43 detik tersebut dengan sebuah quote sederhana namun bermakna amat dalam.

“Ketika sehat kita mempunyai cita-cita yang dapat kita wujudkan dalam hidup ini, tapi kalau ketika sakit kita hanya punya satu keinginan yaitu sehat,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *